Oleh : Debora Sinaga


Definisi mengenai remaja tidak hanya melibatkan aspek usia saja, bahwa seseorang pada fase usia tertentu disebut sebagai remaja. Kelompok usia remaja ini sendiri tergolong variatif terkait dengan budaya dan sejarah pada masing-masing daerah. Di Amerika Serikat, dan sebagian besar budaya lain, masa remaja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada sekitar usia 18 hingga 22 tahun (Santrock, 2007).
Para ahli mendefinisikan masa remaja (adolescence) sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emotional. Tugas pokok remaja adalah mempersiapkan diri memasuki masa dewasa (Larson dkk., dalam Santrock, 2007). Lebih lanjut, para ahli perkembangan membedakan masa remaja menjadi periode awal dan periode akhir. Masa remaja awal (early adolescence) kurang lebih berlangsung di masa sekolah menengah pertama atau sekolah menengah akhir dan perubahan pubertal terbesar terjadi di masa ini. Masa remaja akhir (late adolescence) kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan. Pada masa remaja akhir ini, minat terhadap karir, pacaran, eksplorasi identitas tergolong lebih menonjol dibandingkan masa awal remaja.
Masa remaja, sebagaimana yang dikatakan diatas adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dilihat dari perkembangan biologis, pada fase ini terjadi perubahan yang cukup signifikan pada fisik remaja. Perkembangan fungsi seksual dan terjadinya pubertas dianggap sebagai pertanda mulainya masa remaja. Perkembangan kognitif seorang remaja juga mengalami perubahan dan kemajuan, mampu mengorganisasikan berbagai pengalaman nyata dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut, untuk kemudian menelurkan gagasan-gagasan tertentu. Remaja mampu berfikir abstrak, idealistik, dan logis. Mampu mengembangkan pemikirannya sendiri atas suatu peristiwa yang terjadi di sekitarnya juga menjadi salah satu manifestasi perkembangan intelektual remaja. Pemikiran-pemikiran remaja ini seringkali bertentangan dengan cara berfikir orangtua sehingga dapat menimbulkan polemik tersendiri.
Bila ditinjau dari perkembangan sosialnya, tokoh perkembangan Freudian, Erikson mengatakan bahwa pada masa remaja adalah masa kebingungan peran (role confusion). Pada masa remaja menurut Erikson adalah tahap identitas versus kebingungan identitas (identity versus identity confusion). Pada masa ini, individu dihadapkan pada tantangan untuk menemukan siapakah mereka itu, bagaimana mereka nantinya, dan arah mana yang hendak mereka tempuh dalam hidupnya. Remaja dihadapkan pada peran-peran baru dan status baru. Orangtua sebaiknya mengizinkan mereka untuk menjajaki berbagai peran yang berbeda, maupun berbagai jalur yang terdapat dalam suatu peran tertentu. Jika remaja mampu menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang sehat dan menemukan hal-hal positif sehingga terjadi kesadaran akan peran tersebut untuk diikuti dalam kehidupan, maka identitas yang positif akan dicapai. Jika suatu identitas terlalu dipaksakan oleh orangtua dan jika remaja tidak cukup berhasil dalam menjajaki berbagai peran dan mendefinisikan masa depannya secara positif, maka mereka akan mengalami kebingungan identitas. Oleh sebab itu, seorang remaja diharapkan mampu menemukan identitas diri mereka yang sesungguhnya sebagai dasar pijakan untuk tahap perkembangan selanjutnya.
----------------------------------------
pengantar diatas saya tuliskan sebagai wujud kepedulian terhadap perkembangan remaja dan pemuda gereja kita. selama ini, gereja telah mewadahinya dalam bentuk persekutuan P3MI. kita tahu bahwa pemuda gereja adalah tonggak keberlangsungan gereja dimasa depan. Salah satu cermin gereja dimasa mendatang adalah remaja/pemuda di masa kini. saya memiliki kerinduan agar bapak/ibu, kita sekalian dapat mendukung, mendorong dan mengarahkan anak2 remaja untuk mengeksplorasi diri, membangun identitas lewat berbagai aktifitas yang konstruktif. salah satu media dimana seorang remaja dapat mengekspresikan diri dan mengeksplorasi potensinya adalah melalui Persekutuan Pemuda (P3M).
saya berharap, bapak ibu mau berbagi ide, cara, metode, yang dapat diterapkan oleh pemuda/i sehingga bentuk ibadah dan pelayanan pemuda lebih kreatif, elaboratif dan juga konstruktif untuk perkembangan dirinya sebagai individu, dan sebagai bagian dari keluarga, gereja, dan masyarakat dimana ia berada.
Blessing,
Debora Sinaga
Denpasar - Bali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar