
Belum lagi kita bernafas lega ketika Gunung Sinabung dinyatakan tidak terlalu berbahaya lagi, eh.. Gunung Merapi tiba-tiba mengamuk. Baru saja Amukan Gunung Merapi mereda, giliran Gunung Bromo yang unjuk gigi. Sohib SC tahu ngga, Gunung Api sebenarnya memiliki power yang luar biasa untuk menghancurkan peradaban. Seram yach?
Sebagian peradaban dunia pernah hilang akibat sebuah letusan gunung api yang kekuatannya berkali lipat dahsyatnya dibandingkan letusan Gunung Merapi. Merapi yang telah menewaskan lebih dari 100 orang telah membuat kita meratap dipenghujung tahun 2010 ini.
"Tahun tanpa musim panas". Itulah yang terjadi ketika pada suatu Senin, 10 April 1815, Gunung Tambora di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meluncurkan materi piroklastik. Batuan piroklastik berdiameter 2-15 cm terlontar hingga sejauh 40 kilometer.
Letusan berlangsung delapan hari non stop. Wow! Dan pada puncaknya memuntahkan 150 miliar meter kubik material piroklastik. Supaya sohib SC tahu, kata om Wiki Piroklastik adalah bebatuan klastik yang terbentuk dari material vulkanik. Piroklastik biasanya dibentukdari abu vulkanik, lapilli dan bom vulkanik yang dikeluarkan dari gunung berapi, bergabung dengan bebatuan di daerah tersebut yang hancur.
Yang tersisa sesudahnya adalah 92.000 orang ditemukan tewas dan sekitar 80.000 orang tetap hidup, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora di Pulau Sumbawa lenyap terkubur, serta suhu bumi turun lebih dari dua derajat Celsius. Salju turun pada Juni diQuebec City, Kanada, tanaman pangan di berbagai belahan dunia gagal panen. Sejarawan John Post menyebutnya, ”krisis besar terakhir di dunia Barat”.
Dari buku Bernice de Jong Boers, Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and Its Aftermath, suara letusan terdengar hingga di Pulau Bangka (jauhnya sekitar 1.500 km), Bengkulu (1.775 km), dan langit di atas Madura (500 km) gelap selama tiga hari. Puncak Gunung Tambora terpotong 1.400 meter tingginya sehingga tinggal 2.800 meter. Seperti mau kiamat saja yach…
"Tahun tanpa musim panas". Itulah yang terjadi ketika pada suatu Senin, 10 April 1815, Gunung Tambora di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meluncurkan materi piroklastik. Batuan piroklastik berdiameter 2-15 cm terlontar hingga sejauh 40 kilometer.
Letusan berlangsung delapan hari non stop. Wow! Dan pada puncaknya memuntahkan 150 miliar meter kubik material piroklastik. Supaya sohib SC tahu, kata om Wiki Piroklastik adalah bebatuan klastik yang terbentuk dari material vulkanik. Piroklastik biasanya dibentukdari abu vulkanik, lapilli dan bom vulkanik yang dikeluarkan dari gunung berapi, bergabung dengan bebatuan di daerah tersebut yang hancur.
Yang tersisa sesudahnya adalah 92.000 orang ditemukan tewas dan sekitar 80.000 orang tetap hidup, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora di Pulau Sumbawa lenyap terkubur, serta suhu bumi turun lebih dari dua derajat Celsius. Salju turun pada Juni di
Dari buku Bernice de Jong Boers, Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and Its Aftermath, suara letusan terdengar hingga di Pulau Bangka (jauhnya sekitar 1.500 km), Bengkulu (1.775 km), dan langit di atas Madura (500 km) gelap selama tiga hari. Puncak Gunung Tambora terpotong 1.400 meter tingginya sehingga tinggal 2.800 meter. Seperti mau kiamat saja yach…
Syair Kerajaan Bima menuliskan bencana kapoliptik tersebut:
"Bunyi bahananya sangat berjabuh/Ditempuh air timba habu/Berteriak memanggil anak dan ibu/Disangkanya dunia menjadi kelabu".
Terdahsyat
Itulah letusan terdahsyat dalam sejarah modern manusia. Kekuatannya mencapai sekitar Volcanic Explosivity Index (VEI) 7 dari maksimal VEI 8. Indeks ini analog dengan magnitudo pada gempa bumi yang dinyatakan dengan skala Richter. Skala VEI 8 terjadi saat ledakan Gunung Super Toba pada 73.000 tahun lalu yang menyebabkan terbentuknya Danau Toba yang berdiameter 3.000 km.
Sang Runner Up jawara Letusan gunung api terdahsyat di dunia hingga saat ini masih dipegang oleh gunung yang berlokasi di Nusantara, yaitu Gunung Krakatau.
Pada 27 Agustus 1883, hari Senin, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan VEI 6 yang memicu tsunami setinggi sekitar 50 meter. Sebuah kapal berjarak 80 kilometer pun terlempar hanya karena terkena embusan angin letusan.
Debu Krakatau mengambang ke seluruh dunia selama dua minggu. Dunia pun gelap. Bertahun-tahun efeknya masih terasa, menyebabkan sinar matahari menjadi berbeda yang menginspirasi para penyair Barat. Salah satunya adalah karya penyair Norwegia, "The Scream", yang terinspirasi efek Krakatau.
Pola penyebaran debu vulkanik
Sejarah letusan besar gunung api yang tercatat terbesar ketiga adalah letusan Novarupta yang meletus pada Kamis, 6 Juni 1912, dengan kekuatan VEI 6. Bahan piroklastik "disedot" dari Gunung Katmai yang berjarak sekitar 10 km dari Novarupta. Katmai kemudian tinggal menjadi kaldera berdiameter sekitar 3 kilometer, dengan kedalaman sekitar 265 meter.
Pinatubo
Filipina merupakan tuan rumah bagi gunung dengan letusan keempat terdahsyat. Sabtu, 15 Juni 1991, gunung Pinatubo yang berlokasi dekat dengan Pangkalan AL Amerika Serikat di Subic Bay, Pulau Luzon, Filipina, setelah tertidur selama 500 tahun meletus serta mengakibatkan 850 orang meninggal dunia dan 66.000 orang harus dievakuasi.
Suhu global langsung turun 3 derajat celsius dan selama tiga tahun berikutnya menjadi lebih rendah 1 derajat celsius atau naik dua derajat celsius dibandingkan pascaletusan. Debu piroklastik yang dimuntahkan mencapai 5 miliar meter kubik. Pascaletusan, Pangkalan AL AS di Subic Bay pun ditutup.
Kondisi semakin buruk akibat angin topan Yunya yang menerjang Filipina pada saat bersamaan. Ibarat sudah jatuh ditimpa tangga, kerusakan yang terjadi semakin fatal.
Selebihnya kita bisa berbicara soal letusan Gunung Pelée yang menelan korban 30.000 jiwa (yang terbanyak pada abad ke-20). Tipe letusannya menjadi dasar penetapan jenis letusan gunung api.
Dengan sejarah panjang bencana kayak Dooms Day ini, kita diyakinkan bahwa proses ini akan terus berlangsung sebagai bagian dari proses bumi mencari kesetimbangan baru. Dan, peradaban kita yang hilang pun merupakan bagian dari proses....banyak-banyak berdoa ya sohib SC.
Disadur dari tulisan Brigitta Isworo L yang telah di muat di Harian Kompas Edisi 6 November 2010 dengan Judul “Gunung Api Yang Memusnahkan Peradaban”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar